Sabtu, 01 November 2014

MENCINTAI KAMU DALAM DIAM

MENCINTAI KAMU DALAM DIAM

Benarkah ini yang namanya cinta? Entahlah, yang kutahu setiap bertemu
denganya detak jantungku tak lagi seirama.

Aneh sekali, bukan? Padahal baru beberapa kali bertemu, tapi perasaan
itu sungguh sangat mengganggu. Aku sering senyum-senyum sendiri, saat
dengan sembunyi-sembunyi mengitip fbnya. Sekedar ingin tahu kabarnya,
meski jarang menyapa walaupun sedang sama-sama online.
Pernah beberapa kali ada obrolan lewat inbox, berbagi cerita, tawa dan
canda. Dan setelahnya, aku sendiri yang menerka-nerka perasaan aneh
yang berkecamuk di hatiku.

Mungkin saja angin yang terlalu lembut menyampaikan pesan, pada harap
yang kusemai di setiap sujud malamku. Namun aku tak berani mengatakan,
hanya memendamnya dalam dalam. Sebab dia pun masih biasa-biasa saja,
bahkan kadang terkesan dingin.

Perasaan aneh itu aku pendam hampir setahun lamanya, masih mengakar
bahkan kian berkembang. Dan setahun itu aku mulai merawat rindu di
taman hatiku; kepadanya.
Hingga suatu senja, di kala langit merona jingga, dia datang membawa
kabar gembiranya, seketika langit mendadak mendung, hujan mengambang
di langit hatiku.

"Dewie, aku sedang jatuh cinta, sungguh aku mengaguminya."katamu
dengan suara penuh syahdu, namun serasa bagai petir yang menyambar
telingaku.
"Selamat ya Herman, akhirnya kau menemukan pujaan hatimu."jawabku,
dengan segera memalingkan wajah kecewaku agar tak nampak olehnya, lalu
dengan susah payah aku sunggingkan senyum.
"makasih Wie, aku bahagia banget walau masih terbentang jarak! Ucapnya
menjelaskan.
"Dekatkanlah dengan doa Her, semangat ya, perjuangkan bahagiamu itu!

Aku selalu berusaha menyemangatinya, ketika dia mulai menyerah, aku
sembuyikan segala perasaan cemburuku. Aku tak ingin sahabatku kecewa.
Biarlah dia merawat mawar yang sedang tumbuh di berandanya, sebab aku
tahu, dia sangat menginginkan keindahan dan kebahagiaan ada di
hari-harinya.

Kau gak usah cemburu Wie, biarkan dia bahagia dengan cintanya. Pendam
dalamdalam perasaanmu itu, dia hanya menganggapku sahabat, tak lebih
dari itu! lirihku membathin.

**

Seminggu sudah tak ada lagi kabar dari Herman, mungkin dia sudah lupa
sama aku, atau dia sedang sibuk dengan kebahagiaannya. Baru saja
terlintas tentangnya, tiba-tiba dia datang menyapaku kembali.

"Wie, apa kabarmu? Aku sedang bingung neh, rasanya kebahagiaan itu
selalu jauh dari hidupku!
"Alhamdulillah baik. Emangnya kenapa Her? Tanyaku penasaran.
"Gak tau Wie, dia wanita yang selalu bikin aku penasaran, diamnya
mengundang banyak tanya, aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan!"
"Sabarlah Her, ungkapkanlah perasaanmu jika kamu suka sama dia, awas
bisa tumbuh jerawat loh! ucapku dengan sedikit canda.
Herman pun tersenyum, dan aku hanya mampu memandang senyumannya. Ah,
senyuman itu...senyuman yang selalu menggetarkan hatiku.

"Wie, bisa tolongin aku gak? ucapan Herman mengagetkan lamunanku.
"tolongin apa Her, kalau saya bisa, kenapa gak?
"Buatin aku puisi cinta!"balasnya.
Degg!!! Serasa ada pukulan mendarat ke dadaku, sesak! Bagaimana bisa
dia menyuruhku membuatkan puisi cinta, untuk wanita yang dia kagumi
lagi. Ya ampun!
Lama aku tak menjawab pesan Herman, entah kenapa ada yang jatuh dari
kedua mataku. Aku menangis, kenapa bisa?

"Wie, kenapa diam? Please, hanya kamu sahabatku yang paling baik,
paling ngertiin aku!"ucapnya lagi.
"Baiklah sahabatku, akan aku buatin puisi cinta untukmu!

"setiap pagi membuka mata
ada kerinduan yang menjelajahi hatiku
kerinduan yang amat tinggi
menyentuh langit-langit hatiku

sebuah kerinduan yang ingin membasuh bukitbukit jiwamu
semoga wajahku dapat tenggelam di kelopak matamu

ketahuilah kasih..
wajahmu kini mengelilingi dinding dinding pikiranku!"

"makasih Wie, kamu memang sahabatku yang paling baik, paling cantik,
paling pinter! Ucapnya dengan nada sedikit merayu. he he he

***

Setelah kepergiannya, hari-hariku kembali sepi. Namun tidak dengan
rindu dan cinta yang aku miliki, semakin hari semakin bertambah
kepadanya. Padahal sudah jelas, Herman telah mempunyai kekasih. Ah,
entahlah!

Hampir sebulan aku dan Herman tanpa saling bertukar kabar. Dan aku
mulai bosan dengan rumahku sendiri.
Aku memilih tempat lain untuk mengasingkan diri, setidaknya mencari
sebuah ketenangan.
Tapi mungkin sudah menjadi takdir Tuhan, di rumah baru, aku kembali
bertemu Herman.

Kita semacam sepasang kekasih yang telah lama tak bertemu, begitu dia
mengungkapkan perasaan rindunya kepadaku. Hehe.
Padahal kita hanyalah sahabat lama. Ada kebahagiaan tersendiri, karena
sepanjang obrolan, Herman tak menyebut soal kekasihnya.

Biarlah tetap menjadi rahasia, tentang rasaku, tentang cintaku,
biarlah hanya Allah yang tahu. 
 
sumber: http://lukisan2cinta.blogspot.com/2014/01/cerpen-mencintai-dalam-diam.html